Profil dan Sejarah Kota Bandung

Bandung adalah nama kota dan kabupaten di Jawa Barat. Saat ini nama Bandung merujuk pada tiga wilayah di Bandung Raya: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat (KBB). Berikut ini Profil dan Sejarah Kota Bandung.

KOTA Bandung (kotamadya) adalah kota metropolitan. Saat ini Kota Bandung merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat.

Kota Bandung pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java (bahasa Belanda). Artinya“Kota Paris dari Jawa“.

Karena terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata.

Baca Juga

Keberadaan perguruan tinggi negeri dan banyak perguruan tinggi swasta di Bandung membuat kota Bandung juga dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Indonesia. (Wikipedia).

Asal-Usul Nama “Bandung”

Berbagai pendapat dan sumber menyebutkan asal-usul nama Bandung.

Secara harfiyah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bandung artinya: (1) benda yang dirangkaikan (dua buah); pasang; se·ban·dung n (1) dua serangkai; dua benda yang dirangkaikan; sepasang: rumah -; 2 kembar (dr satu telur).

Sebagian mengatakan, kata bandung dalam bahasa Sunda identik dengan kata banding dalam bahasa Indonesia yang berarti “berdampingan”. Ngabanding (Sunda) berarti “berdampingan” atau “berdekatan”.

Pendapat lain mengatakan, kata bandung artinya “besar” atau “luas”. Kata itu berasal dari kata “bandeng”. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga, kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung.

Kata Bandung juga disebut-sebut berasal dari kata “bendung”, terkait dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu).

Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba.

Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 – 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.

Pendapat terakhir inilah yang paling populer, yaitu kata Bandung berasal dari kata Bendungan. Lagi pula, Bandung ini “cekungan” kara dulunya “danau besar”.

Sejarah Berdirinya Kota Bandung

Kondisi Geografi Kota Bandung

Sejarah Kota Bandung adalah juga sejarah Bandung Raya. Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.

Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun. Beliau memerintah Kabupaten bandung hingga tahun 1681.

Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang.

Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki “Dalem Kaum I”, kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg). Jalan ini membentang dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (sekitar 1000 km).

Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daearh Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya.

Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.

Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan.

Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang).

Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.

Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).

Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati.

Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810. (bandung.go.id).

Baca Juga: Bandung Tempo Dulu

Alun-Alun Bandung Dulu
Alun-Alun Bandung Dulu (Foto: Wikipedia)

Sejarah Kota Bandung: Peristiwa Penting

Sejarah Kota Bandung tidak lepas dari berbagai peristiwa penting. Terpopuler adalah Konferensi Asia Afrika (KAA) yang fenomenal dan membuat Bandung mendunia.

Berikut ini peristiwa penting dalam sejarah Kota Bandung:

1488 – Bandung didirikan sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran.
1799 – VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di Nusantara diambilalih oleh pemerintah Belanda. Saat itu Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II.
1808 – Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara setelah ditinggalkan VOC.

1809 – Bupati memerintahkan pemindahan ibu kota dari Karapyak ke daerah pinggiran Sungai Cikapundung (alun-alun sekarang) yang waktu itu masih hutan tapi sudah ada permukiman di sebelah utara.
1810 – Daendels menancapkan tongkat di pinggir sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung.
25 Mei 1810 – Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang memindahkan ibukota ke wilayah tersebut.

25 September 1810 – Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang.

Sejak peristiwa tersebut, 25 September dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung dan R.A. Wiranatakusumah sebagai The Founding Father.

Sekarang nama tersebut diabadikan menggantikan jalan Cipaganti, di mana wilayah ini menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alun-alun sekarang.
24 Maret 1946 – Pembumi hangusan Bandung oleh para pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan ‘Bandung Lautan Api‘ dan diabadikan dalam lagu “Halo-Halo Bandung”.

1955 – Konferensi Asia-Afrika diadakan di Kota Bandung.
2005 – KTT Asia-Afrika 2005

Gedung Asia Afrika

Geografi Kota Bandung

Bandung terletak pada koordinat 107° BT and 6° 55’ LS. Luas Kota Bandung adalah 16.767 hektare. Kota ini secara geografis terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, dengan demikian, sebagai ibu kota provinsi, Bandung mempunyai nilai strategis terhadap daerah-daerah di sekitarnya.

Kota Bandung terletak pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut rata-rata (mean sea level), dengan di daerah utara pada umumnya lebih tinggi daripada di bagian selatan.

Ketinggian di sebelah utara adalah ±1050 msl, sedangkan di bagian selatan adalah ±675 msl. Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga Bandung merupakan suatu cekungan (Bandung Basin).

Melalui Kota Bandung mengalir sungai utama seperti Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum serta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di Sungai Citarum, dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir.

Daftar Wali Kota Bandung

Berikut ini daftar Wali Kota Bandung dari 1906 hingga 2020.

  1. E.A. Maurenbrecher (1906-1907)
  2. R.E. Krijboom (1907-1908)
  3. J.A. van Der Ent (1909-1910)
  4. J.J. Verwijk (1910-1912)
  5. C.C.B. van Vlenier (1912-1913)
  6. B. van Bijveld (1913-1920)
  7. B. Coops (1920-1921)
  8. S.A. Reitsma (1921-1928)
  9. B. Coops (1928-1934)
  10. Ir. J.E.A. van Volsogen Kuhr (1934-1936)
  11. Mr. J.M. Wesselink (1936-1942)
  12. N. Beets (1942-1945)
  13. R.A. Atmadinata (1945-1946)
  14. R. Sjamsurizal (1946)
  15. Ir. Ukar Bratakusumah (1946-1949)
  16. R. Enoch (1949-1956)
  17. R. Priatna Kusumah (1956-1966)
  18. R. Didi Djukardi (1966-1968)
  19. R. Hidayat Sukarmadidjaja (1968-1971)
  20. R. Otje Djundjunan (1971-1976)
  21. Utju Djoenaedi (1976-1978)
  22. R. Husein Wangsaatmadja (1978-1983)
  23. Ateng Wahyudi (1983-1993)
  24. Wahyu Hamidjaja (1993-1998)
  25. Aa Tarmana (1998-2004)
  26. Dada Rosada, SH, MSi (2004-2008)
  27. Dada Rosada, SH, MSi (2008-2013)
  28. Ridwan Kamil (2013-2018)
  29. Oded M Danial (2018-2023)
Balai Kota Bandung - Pusat Pemerintahan Kota Bandung
Balai Kota Bandung (Foto: bandung.go.id)

Penduduk Kota Bandung

Penduduk Kota Bandung menurut Registrasi Penduduk sampai dengan bulan Maret 2004 berjumlah : 2.510.982 jiwa dengan luas wilayah 16.729,50 Ha. (167,67 Km 2 ), sehingga kepadatan penduduknya per hektar sebesar 155 jiwa.

Komposisi penduduk warga negara asing yang berdomisili di Kota Bandung adalah sebesar 4.301 jiwa.

Jumlah warga negara asing menurut catatan Kantor Imigrasi Bandung yang berdiam tetap di Kota Bandung setiap bulannya rata-rata sebesar 2.511 orang, sedangkan jumlah warga negara asing yang berdiam sementara di Kota Bandung setiap bulannya rata-rata sebesar 5.849 jiwa.

Dari Program Pemerintah dalam hal mengurangi kepadatan penduduk yang tinggi khususnya di Kota Bandung telah dilaksanakan Program Transmigrasi ke luar Pulau Jawa dengan jenis transmigrasi terbesar adalah Transmigrasi TU sebanyak 76 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa sebesar 86, sedangkan daerah tujuan Transmigrasi TU adalah Propinsi Riau dan Kalimantan tengah.

Dalam hal membuka kesempatan kerja yang ada pada Bursa Kesempatan Kerja jumlah kesempatan yang paling tinggi adalah dari lulusan SMU. Nampaknya dalam hal ini Pemerintah tetap harus bekerja keras dalam penyediaan lapangan pekerjaan, selain lowongan yang ada terus diciptakan dan kualitas sumber daya manusia juga harus ditingkatkan. (bandung.go.id).

Transportasi Kota Bandung

transportasi kota bandung

Untuk transportasi dalam kota, warga Bandung biasanya menggunakan angkutan kota atau “angkot” daripada taksi yang lebih mahal.

Selain itu, bus kota juga melayani transportasi, umumnya di jalan-jalan besar dan untuk rute-rute yang panjang.

Kota Bandung memiliki sebuah bandara internasional, yaitu Bandara Husein Sastranegara. Bandara ini menghubungkan Kota Bandung dengan kota-kota lainnya di Indonesia dan dunia, khususnya negara tetangga seperti Singapora dan Malaysia.

Kota Bandung juga mempunyai dua stasiun kereta api, yaitu Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong. Stasiun Bandung melayani rute Bandung-Jakarta, Bandung-Surabaya, Bandung-Semarang, dan Bandung-Yogyakarta setiap hari. Stasiun Kiaracondong untuk kelas ekonomi.

Jembatan Pasupati menghubungkan bagian utara dan timur Bandung melewati lembah Cikapundung. Panjangnya 2,8 km dan lebarnya 30-60 m. Pada 25 Juni 2005 jembatan ini resmi dibuka. Jembatan ini  menjadi land mark kota Bandung yang baru.

Kondisi Geografi Kota Bandung
Jembatan Pasopati Bandung (Foto: Humas Kota Bandung)

Jalan tol Padaleunyi menghubungkan Padalarang, Cimahi, Bandung sebelah selatan dan Cileunyi. Selanjutnya jalan tol yang menghubungkan Padalarang dan Purwakarta (Cipularang) sudah dibangun, digabungkan dengan Padaleunyi dan dinamai Purbaleunyi.

Jalan Tol Purbaleunyi mempersingkat perjalanan antara Bandung dan Jakarta. Dengan adanya jalur ini, waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 1,5 jam sampai dengan 2 jam

Bandung juga memiliki Jalan Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja) dan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) yang sedang dibangun.

Di dalam kota, ada bus Trans Metro Bandung (TMB) yang melayani trayek dari ujung timur ke ujung barat Kota Bandung. Demikian Sejarah Bandung.

Wilayah Kota Bandung

Peta Kota Bandung
Peta Kota Bandung

Kota Bandung saat ini terdiri dari 30 kecamatan dan 151 kelurahan. Tahun 2017, jumlah penduduk Kota Bandung mencapai 2.404.589 jiwa dengan luas wilayah 167,67 km² dan sebaran penduduk 14.341 jiwa/km².

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Bandung, adalah sebagai berikut:

  1. Andir: 6 Kelurahan (Campaka, Ciroyom, Dunguscariang, Garuda, Kebon Jeruk, Maleber)
  2. Astana Anyar: 6 Kelurahan (Cibadak, Karanganyar, Karasak, Nyengseret, Panjunan, Pelindung Hewan)
  3. Antapani: 4 Kelurahan (Antapani Kidul, Antapani Kulon, Antapani Tengah, Antapani Wetan)
  4. Arcamanik: 4 Kelurahan (Cisaranten Bina Harapan, Cisaranten Endah, Cisaranten Kulon, Sukamiskin)
  5. Babakan Ciparay: 6 Kelurahan (Babakan, Babakan Ciparay, Cirangrang, Margahayu Utara, Margasuka, Sukahaji)
  6. Bandung Kidul: 4 Kelurahan (Batununggal, Kujangsari, Mengger, Wates)
  7. Bandung Kulon: 8 Kelurahan (Caringin, Cibuntu, Cigondewah Kaler, Cigondewah Kidul, Cigondewah Rahayu, Cijerah, Gempolsari, Warungmuncang)
  8. Bandung Wetan: 3 Kelurahan (Cihapit, Citarum, Tamansari)
  9. Batununggal: 8 Kelurahan (Binong, Cibangkong, Gumuruh, Kacapiring, Kebongedang, Kebonwaru, Maleer, Samoja)
  10. Bojongloa Kaler: 5 Kelurahan (Babakan Asih, Babakan Tarogong, Jamika, Kopo, Suka Asih)
  11. Bojongloa Kidul: 6 Kelurahan (Cibaduyut, Cibaduyut Kidul, Cibaduyut Wetan, Kebon Lega, Mekarwangi, Situsaeur)
  12. Buahbatu: 4 Kelurahan (Cijawura, Jatisari, Margasari, Sekejati)
  13. Cibeunying Kaler: 4 Kelurahan (Cigadung, Cihaurgeulis, Neglasari, Sukaluyu)
  14. Cibeunying Kidul: 6 Kelurahan (Cicadas, Cikutra, Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, Sukapada)
  15. Cibiru: 4 Kelurahan (Cipadung, Cisurupan, Palasari, Pasirbiru)
  16. Cicendo: 6 Kelurahan (Arjuna, Husen Sastranegara, Pajajaran, Pamoyanan, Pasirkaliki, Sukaraja)
  17. Cidadap: 3 Kelurahan (Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng)
  18. Cinambo: 4 Kelurahan (Babakan Penghulu, Cisaranten Wetan, Pakemitan, Sukamulya)
  19. Coblong: 6 Kelurahan (Cipaganti, Dago, Lebakgede, Lebaksiliwangi, Sadangserang, Sekeloa)
  20. Gedebage: 4 Kelurahan (Cimincrang, Cisaranten Kidul, Rancabolang, Rancanumpang)
  21. Kiaracondong: 6 Kelurahan (Babakansari, Babakansurabaya, Cicaheum, Compreng, Kebonkangkung, Kebunjayanti, Sukapura)
  22. Lengkong: 7 Kelurahan (Burangrang, Cijagra, Cikawao, Lingkar Selatan, Malabar, Paledang, Turangga)
  23. Mandalajati: 4 Kelurahan (Jatihandap, Karangpamulang, Pasir Impun, Sindangjaya)
  24. Panyileukan: 4 Kelurahan (Cipadung Kidul, Cipadung Kulon, Cipadung Wetan, Mekarmulya)
  25. Rancasari: 4 Kelurahan (Cipamokolan, Darwati, Manjahlega, Mekar Jaya)
  26. Regol: 7 Kelurahan (Ancol, Balonggede, Ciateul, Cigereleng, Ciseureuh, Pasirluyu, Pungkur)
  27. Sukajadi: 5 Kelurahan (Cipedes, Pasteur, Sukabungah, Sukagalih, Sukawarna)
  28. Sukasari: 4 Kelurahan (Gegerkalong, Isola, Sarijadi, Sukarasa)
  29. Sumur Bandung: 4 Kelurahan (Babakan Ciamis, Braga, Kebon Pisang, Merdeka)
  30. Ujungberung: 5 Kelurahan (Cigending, Pasanggrahan, Pasirendah, Pasirjati, Pasirwangi)

Demikian profil dan sejarah Kota Bandung. (Sumber: bandung.go.id/id.wikipedia.org).*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *