Sejarah Bandung Lautan Api

Bandung Lautan Api
Bandung Lautan Api (Wikipedia)

Bandung Lautan Api (BLA) adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Kota Bandung pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, para pejuang kemerdekaan dan sekitar 200 ribu penduduk Bandung membakar rumah mereka.

Usai membakar rumah, mereka meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Aksi pembakaran rumah ini disebut juga “operasi bumi-hangus”.

Pembakaran dilakukan dengan tujuan mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan Kota Bandung sebagai markas militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Sebuah pengorbanan sangat besar dari warga Bandung dulu untuk Indonesia.

Ide pembakaran Kota Bandun muncul dari Mayor Rukana, seorang komandan Polisi Militer Bandung. Awalnya ia menanggapi Letkol Omon Abdurachman yang ditegur Kolonel Nasution karena ingin melakukan perlawanan.

Baca Juga

Rukana yang juga ingin melawan mengatakan, untuk meledakkan terowongan Sungai Citarum yang ada di Rajamandala agar sungai meluap dan membuat Bandung menjadi lautan air. Namun, karena emosi, ia malah mengatakan “lautan api”, dan bukan lautan air.

Latar Belakang Bandung Lautan Api

Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Pasukan Inggris menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali Tentara Keamanan Rakyat(TKR), diserahkan kepada mereka.

Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.

Pada malam 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas.

Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi “bumi-hangus”.

Para pejuang Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) tanggal 23 Maret 1946.

Kolonel Abdoel Haris Nasoetion (Komandan Divisi III TRI) mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.

Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi.

Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung. Di sana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu.

Dalam pertempuran ini, Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut.

Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya.

Staf pemerintahan Kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung.

Sejak saat itu, sekitar pukul 24.00, Bandung selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membara dan membakar kota. Bandung pun menjadi semacam lautan api.

Pembumihangusan Bandung merupakan strategi yang tepat karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar.

Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung.

Lagu “Halo-Halo Bandung”

Peristiwa Bandung Lautan Api mengilhami Ismail Marzuki menciptakan lagu “Halo-Halo Bandung”.

Ismail Marzuki pernah bermukim di kota kembang. Ia pindah ke Bandung dari Jakarta untuk membentuk grup Orkes Studio Ketimuran. Ismail Marzuki juga menikahi perempuan Bandung bernama Eulis Andjung Zuraidah (Ahmad Naroth, “Bang Ma’ing Anak Betawi”, Intisari, Juni 1982:8).

Ismail Marzuki dan istri sempat tinggal di Bandung selatan yang pada akhirnya terpaksa dibumihanguskan oleh tentara republik sebelum dijamah Sekutu dan Belanda. Ia dan istri turut mengungsi pula kala itu (Christiawan Bayu Respati, Peran Ismail Marzuki dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, 2016:26).

Dari situ dapat disimpulkan bahwa Ismail Marzuki adalah saksi mata ketika peristiwa Bandung Lautan Api terjadi.

Namun, ada juga kesaksian bahwa Ismail Marzuki bukan pencipta lagu “Halo-Halo Bandung”. Hal itu dikemukakan pelaku BLA, Pestaraja Marpaung.

Veteran asal Medan yang akrab disapa Bang Maung ini adalah salah seorang pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Dalam buku berjudul Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan (Ratnayu Sitaresmi, dkk., 2002), Bang Maung mengungkapkan bahwa lagu “Halo-Halo Bandung” bukan diciptakan khusus oleh seseorang, melainkan tersusun secara spontan oleh para pejuang republik yang berperan langsung dalam peristiwa Bandung Lautan Api saat itu.

Ia memaparkan, kata-kata atau lirik dalam lagu “Halo-Halo Bandung” terdiri dari berbagai macam bahasa atau ucapan kebiasaan lokal khas daerah karena para pejuang yang berperang di Bandung kala itu berasal dari berbagai wilayah dan suku bangsa di Indonesia.

Kata “Halo”, misalnya, adalah sapaan yang sering digunakan oleh anak-anak muda di Medan. Begitu pula dengan kata “Beta” dan “Kau” yang terselip dalam lagu tersebut adalah khas Maluku atau Ambon. Jika lagu itu bukan tercipta secara spontan, mengapa tidak memakai kata ganti orang pertama dan kedua yang lebih umum?

Seperti yang ditulis di buku tersebut, Bang Maung berucap, “Sesudah Halo-Halo Bandung, datang orang Ambonnya. Sudah lama beta tidak bertemu dengan kau! Karena itu, ada beta di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia (orang Ambon) di situ?”

“Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan!”

Monumen Bandung Lautan Api
Monumen Bandung Lautan Api (Dronesbackpack)

Asal Istilah Bandung Lautan Api 

Istilah “Bandung Lautan Api” menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.

“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air.” (A.H Nasution, 1 Mei 1997).

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik, di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”.

Namun, karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

Monumen Bandung Lautan Api
Monumen Bandung Lautan Api

 

Saat ini nama Bandung Lautan Api dijadikan nama stadion taraf internasional di wilayah Gedebage, Stadion Gelora Bandung Lautan Api (Gelora BLA atau GBLA). Sebelumnya, didirikan Monumen Bandung Lautan Api di kawasan Tegalega.

Stadion GBLA
Stadion GBLA (bola.net)

Kronologi Bandung Lautan Api

12 Oktober 1945

Pasukan Inggris, Brigade McDonald dan Tentara Belanda tiba di Kota Bandung. Mereka menuntut agar seluruh senjata api yang ada di tangan penduduk diserahkan pada mereka. Selain melucuti senjata, mereka juga meminta untuk membebaskan Tentara Jepang dan Tawanan Eropa.

21 November 1945

Malam tanggal 21 November 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas.

24 November 1945

Kolonel McDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

25 November 1945

Pada tanggal 25 November 1945 terjadi pertempuran di sejumlah daerah seperti Cihargeulis, Sukajadi, Pasirkaliki, viaduct (jembatan di atas jalan) dan balai kereta api. Pesawat Inggris menjatuhkan bom ke Lengkong Besar dan Cicadas. Di Lengkong Besar, Tentara Sekutu berusaha membebaskan Tawanan Eropa.

23 Maret 1946

Tanggal 23 Maret 1946, Tentara Sekutu di bawah komando Kolonel McDonald mengeluarkan ultimatum kedua. Bandung Selatan harus dikosongkan oleh rakyat sipil dan milisi Indonesia.

Tuntutan itu tentu ditolak dengan keras oleh TRI. Kemudian, pada tanggal 23 Maret 1946 pada pukul 21.00, bumi hangus kota pun dilakukan sebagian, yakni di Banceuy, Cicadas, Braga dan Tegallega. Dan gedung pertama yang dibakar adalah Bank Rakyat.

24 Maret 1946

Eksekusi membumihanguskan Bandung dilakukan pada dini hari 24 Maret 1946. Dengan terbakarnya Kota Bandung maka sekutu tidak bisa memakai Bandung sebagai markasnya. Serangan dan aksi pembakaran dilakukan oleh pejuang yang berjumlah 200 ribu orang dalam waktu tujuh jam saja.

Infografis Bandung Lautan Api

Referensi: Wikipedia, Okezone, Tirto.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *